1% AIR 99% KENANGAN
Kenangan adalah karya yang abadi
Sore itu hujan turun dengan sangat deras
angin bertiup sangat kencang . Wanita separuh baya yang tinggal seorang diri di gubuk yang sederhana hanya menatap hujan yang turun di depan jendela yang sengaja ia buka . Wanita tersebut bernama bu Ratih .
Air mata jatuh tak terbendung , bu Ratih teringat sosok suami nya yang sudah cukup lama meninggal dunia karena kecelakaan. Selain teringat suaminya bu Ratih juga teringat 5 sosok anak nya yang kini sudah berumah tangga . Hasan,Husein,Zaenab,Malik, dan Siti yang kini sudah mempunyai kaluarga masing masing , mereka telah menikah dan tidak tinggal bersama bu Ratih .
Husen, anak pertama dari bu Ratih tinggal di bali bersama istri dan dan ketiga anaknya, Husein kini tinggal di jakarta bersama istri dan kedua anaknya, Zaenab sekarang tinggal di bandung bersama suami dan kedua anaknya, Malik tinggal di tangerang bersama istri dan anaknya, dan Siti baru saja di bawa tinggal bersama suami nya di jogja .
Setiap harinya bu Ratih merasa kesepian tidak ada siapapun yang menemaninya . Terlintas kenangan waktu dulu bersama keluarganya ketika suami dan seluruh putra putrinya berkumpul bersama. Teringat 15 tahun lalu ketika seluruh keluarga berkumpul di ruang TV dengan posisi yang berbeda , ada yang duduk, tiduran, dan sebagainya .
Pak Hadi, suami dari bu Ratih yang sedang di pijit oleh putra sulungnya Hasan "San sebentar lagi kamu lulus SMA , universitas mana yang kamu inginkan ? "tanya pak Hadi kepada Hasan ","universitas kedokteran yang ternama di jakarta pak" jawab Hasan, "kenapa kamu menginginkan universitas kedokteran, emangnya apa cita-citamu?", "cita-cita Hasan ingin menjadi dokter pak" jawab Hasan kembali "mengapa kamu ingin menjadi dokter San?" ,"karena Hasan ingin membantu orang sakit dan mendirikan rumah sakit Hasan Hadi " jawabnya dengan senyum yang sangat meyakinkan bahwa dirinya dapat mewujudkan impiannya. Pak Hadi menganggut dengan senyum di bibirnya .
"kalo kamu Sen? Apa cita-citamu?"tanya pak Hadi kepada Husen, "cita-cita Husen ingin menjadi polisi pak",jawab Husen"mengapa kamu ingin menjadi polisi Sen?"tanya pak Hadi " karena Husen ingin memberantas kejahatan yang ada di negara ini pak " pak Hadi tersenyum mendengar jawaban Husen. "nah, kalo kamu zaenab, apa cita-citamu dan apa alasannya?","cita-cita zaenab ingin menjadi guru pak, karena ingin mencerdaskan anak bangsa" pak Hadi tersenyum kembali ketika mendengar cita-cita mulya anaknya. "kamu Malik,apa cita-citamu dan apa alsannya?","cita-citaku ingin menjadi tentara pak, karena ingin mengamankan negri tercinta ini "Malik menjawab dengan nada semangat dan tegas. Pak Hadi menganggut dan tersenyum bahagia ."anak bungsu bapak cita-cita kamu apa dan apa alasannya?" tanya pak Hadi kepada Siti putri bungsunya, "Siti ingin menjadi bidan pak, karena ingin membantu manusia melihat dunia" jawaban anak bungsu nya itu membuat ia tersenyum lebar dan bahagia "iya..iya bagus" ucap pak Hadi.
"kalian akan dapat menggapai semua impian kalian, asalkan bersungguh sungguh dalam belajarnya, proses itu tidak akan menghianati hasil" saur bu Ratih dengan senyuman bahagia.
Air mata semakin cepat keluar, dan membasahai pipi bi Ratih karena mengingat kenangan itu, tapi bibirnya mengembang tersenyum lebar karena ia sangat bahagia karena anak anaknya dapat menggapai semua cita-cira mereka . Tapi ia sangat merindukan keluarga nya berkumpul sperti dulu , namun semua itu tidak mungkin terjadi karena pak Hadi suami bu Ratih telah pergi dan tak akan kembali . Semuanya hanya akan menjadi kenangan yang sangat berarti bagi bu Ratih .

Tidak ada komentar:
Posting Komentar